Momen-momen yang Mengesankan Pada HUT Guru ke 74 di KB, TK Islam PB Soedirman

Momen-momen yang Mengesankan Pada HUT Guru ke 74 di KB, TK Islam PB Soedirman

Pada hari Senin, 25 November 2019, keluarga besar KB, TK Islam PB Soedirman mengikuti kegiatan yang berkesan bagi para guru, tenaga kependidikan, dan juga peserta didik. Pada kegiatan tersebut mereka tertawa, terharu, hingga ada yang menangis.

Acara tersebut merupakan kegiatan yang rutin diadakan pada tanggal 25 November dengan penyelenggara utamanya adalah Komite Sekolah. Mereka membuat acara tersebut dipersembahkan khusus untuk guru-guru KB, TK Islam PB Soedirman. Karena pada hari itu merupakan hari spesial untuk guru, yaitu hari ulang tahun guru Republik Indonesia yang ke 74.

Seperti tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan tersebut diadakan di aula sekolah yang panggungnya sudah terdekor dengan indah, kanan-kiri bangunan terpasang balon beraneka warna, lantai aula tertutup karpet hijau mirip alas majlis ta’lim, langit-langitnya penuh dengan bendera warna-warni, dan ada sound sistem yang menggetarkan dinding-dindingnya terpasang rapih, serta di salah satu sisinya terjejer meja prasmanan yang membuat suasana menyerupai acara di hotel berbintang.

Pada acara memperingati hari guru itu mengusung kalimat “Untuk Semua Guru Mulia Jasa Kalian akan Selalu Kami Kenang, Tetaplah Menjadi Pelita untuk Anak Bangsa”. Dan dipandu oleh dua orang pengurus komite yang suara mereka saling bersahutan mirip MC profesional membawakan acara di stasiun televisi dan sesekali suara mereka beradu dengan suara peserta didik yang duduk di atas karpet hijau.

 MC : Bunda Talita dan Bunda Belva

Peserta didik Kelompok Bermain (KB) dan TK tidak semua hanya menonton. Sebagian ada yang terlibat naik ke atas panggung. Ada yang membaca alquran di awal acara. Ada yang membaca puisi bertemakan guru yang membuat haru dan bangga. Dan ada yang tampil memberikan hadiah kepada guru mereka.

Begitu juga dengan orang tua peserta didik. Mereka tidak hanya menjadi panitia. Mereka pun ikut naik ke atas panggung menyanyikan dua buah lagu yang dipersembahkan untuk para guru, terutama guru-guru anak mereka.

Penampilan Orang tua Peserta Didik

Meski acara tersebut dipersembahkan untuk para guru, namun guru tidak hanya menjadi penonton. Mereka memang tidak tampil menjadi petugas. Namun para guru tampil sebagai peserta permainan yang disediakan oleh panitia. Mereka bermain tebak gambar, bermain tujuh wow sebuah permainan yang melatih konsentrasi dan kemampuan berhitung, serta bernyanyi.

Semua yang hadir sangat terkesan dengan acara demi acara pada kegiatan memperingati hari guru itu. Dan yang sangat berkesan bagi guru adalah saat perwakilan peserta didik mereka menyerahkan hadiah sambil mengucapkan “selamat ulang tahun” (maksud mereka hari guru).

Dan ada juga momen berkesan lainnya yaitu saat peserta didik masuk ke dalam kelas bersama pengurus komite, sementara guru disuruh menikmati hidangan yang ada di meja prasmanan. Jadilah, peserta didik bersama komite di dalam kelas, guru mengobrol duduk santai sambil menikmati makanan dan minuman yang sederhana namun kaya akan gizi.

Setelah itu, para guru dipersilakan untuk masuk kelas menemui peserta didik mereka. Disinilah momen yang juga sangat berkesan yaitu peserta didik menyerahkan cokelat ke guru mereka dan ada juga yang memberikan bingkisan berbalutkan pita cantik. Tangan mungil mereka menjulur, mulut mereka bertutur “Pak Fajar, ini hadiah untuk Pak Fajar. Selamat hari guru yaaa”

Momen berkesan yang dirasakan para guru tidak sampai di situ. Pada siang hari, satu jam sebelum shalat dzuhur, para guru kembali mendapatkan kegiatan yang sangat berkesan, seru, mendidik, dan mengenyangkan. Yaitu lomba memasak.

Guru Kelompok B

Pada lomba memasak para guru sangat antusias mengikutinya. Mereka beraksi menggunakan perlengkapan masak dengan berpakaian mirip juru masak hotel berbintang. Menu yang harus mereka masak adalah makanan berbahan dasar singkong.

Para guru yang setiap hari memikirkan rencana kegiatan pembelajaran untuk peserta didiknya, saat lomba masak mereka harus memikirkan menu apa yang akan mereka masak. Setiap hari mereka juga membuat rencana pembelajaran pada selembar kertas lesson plan, saat lomba mereka harus membuat resep makanan yang akan mereka buat.

Dan kalaulah setiap hari mereka menentukan dan meramu kegiatan pembelajaran yang tepat sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik agar tumbuh kembangnya berkembang dengan baik. Saat lomba pun mereka harus menentukan dan meramu bumbu yang akan mereka gunakan agar masakan mereka hasilnya sesuai dengan yang ingin dibuat dan sedap rasanya.

Dan pastinya ketika sehari-hari para guru sibuk membersamai peserta didik. saat lomba masak pun mereka sibuk bergerak membersamai aneka makanan yang akan mereka masak.

Apapun aktifitas bersama peserta didik pada setiap harinya sangatlah mengesankan. Begitu juga dengan lomba memasak, apapun hasilnya dan siapapun juara pertamanya, yang pasti semua guru sangat berkesan dengan kegiatan tersebut.

Dan bagi penulis sendiri pun juga ada satu momen yang berkesan yaitu mendapat penghargaan dari Yayasan sebagai guru berprestasi tahun ini.

Terimakasih kepada Komite Sekolah yang telah memberikan pengalaman berkesan untuk para guru KB, TK Islam PB Soedirman dan para peserta didiknya pada hari guru ke 74.

Sedih, Guru dan Orang tua Menangis di Acara Pentas Tasmi KB,TK Islam PB Soedirman

Sedih, Guru dan Orang tua Menangis di Acara Pentas Tasmi KB,TK Islam PB Soedirman

Pada hari Jum’at, 08 November 2019, KB, TK Islam PB soedirman mengadakan kegiatan “Pentas Tasmi dan Cerita Heroik dari Negeri Palestina”. Kegiatan yang bertepatan dengan jelang Maulid Nabi saw itu sangatlah menarik hingga membuat penonton yang ada menitikkan air mata.

Pentas Tasmi merupakan kegiatan rutin, dan sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu. Kegiatan tersebut merupakan pelengkap dari program Cinta Quran yang awalnya di gagas oleh Bapak Firman Mudiana Fajar,S.Pd.I, alias penulis sendiri, yang saat itu masih mengajar di Sentra Iman dan Taqwa (Imtaq).

Tasmi sendiri berasal dari kata sam’a yang artinya mendengar. Maka yang dimaksud dengan tasmi adalah mendengar bacaan hafalan surat alquran seorang murid atau santri. Biasanya, di pondok pesantren atau rumah tahfidz alquran kegiatan ini dilakukan secara individual, murid berhadapan langsung dengan ustadz/uistadzahnya dan dilakukan dengan satu kali duduk, maksudnya murid membaca hafalan 1 juz alquran sekaligus tanpa jeda istirahat.

Khusus di TK islam PB Soedirman kegiatan tasmi disesuaikan dengan karakteristik pembelajaran pada anak usia dini dan ciri khas sekolah. Maka tasminya dilakukan dalam bentuk pentas, yaitu anak-anak tampil perkelas membacakan surat, hadis dan doa yang mereka hafal. Seperti di kelas B2, mereka tampil membaca surat Alqori’ah dan surat Ibrahim ayat 41.

Kelas B1 Saat Tampil
Kelompok Bermain

Pada kegiatan yang dilaksanakan di aula sekolah itu Ibu Fri Corinasandrawati, M.Pd memberikan sambutan, pada sambutannya beliau berpesan kepada seluruh peserta didik agar terus rajin menghafalkan alquran, menjaga hafalannya, agar kelak dapat masuk surganya Alloh SWT dan dapat memakaikan mahkota kepada kedua orang tua.

Dikarenakan keesokan harinya adalah tanggal 12 Robiul Awal, yaitu tanggal kelahirannya Nabi Muhammad saw. Maka Ibu Kepala Sekolah juga berpesan kepada peserta didik agar dapat meneladani Nabi Muhammad saw.

Cerita Heroik Dari Negeri Palestina

Selesai pentas tasmi peserta didik istirahat 30 menit di dalam kelas untuk snack time. Setelah itu mereka kembali lagi ke aula untuk mendengarkan cerita tentang keberanian seorang anak Palestina yang disampaikan oleh Kak Jani dari Yayasan Kasih Palestina.

Kak Jani menceritakan dengan teknik berdongeng yang memukau, berbagai suara ia keluarkan dari mulutnya. Suara pesawat, tembakan, teng tempur, roket, ledakan, teriakan, ketakutan, hingga tangisan, yang menggambarkan suasana perang di negeri Palestina yang sampai saat ini masih terjajah oleh Zionis Israel.

Antusias Menyimak Kak Jani Bercerita

Tokoh cilik dalam cerita tersebut bernama Ahmad, yang memiliki orang tua dan satu kakak. Diceritakan Ahmad adalah anak sholeh yang rajin mengaji, belajar, dan sholat berjamaah di Masjid, ia juga sangat berbakti kepada kedua orang tua, guru dan kakaknya.

Keluarga Ahmad adalah keluarga muslim yang sangat bahagia, saling menyayangi dan mengasihi. Kedua orang tua Ahmad merupakan orang yang turut memperjuangkan kemerdekaan palestina. Dan mereka sangat berharap kelak Ahmad menjadi warga Palestina yang turut memperjuangkan negerinya, menjadi seorang penghafal alquran, dan memiliki ilmu pengetahuan yang berguna.

Namun sayang, kebahagiaan mereka tidak lama. Kedua orang tua Ahmad tidak dapat lagi melihat Ahmad pergi ke sekolah, belajar, dan membaca alquran. Karena mereka berserta kakaknya Ahmad gugur terkena serangan rudal penjajah Israel.

Pada pagi hari Ahmad tidak menenmukan kedua orang tua dan kakaknya yang biasa mengajaknya sholat subuh berjamaah. Ia berusaha mencarinya, bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya. Ditengah serangan roket-roket penjajah, ia terus berjalan mencari keluarganya. Lapar, haus, takut tertembak, tidak dihiraukannya lagi. Dengan berani ia terus mencari keluarganya.

Hingga akhirnya Ahmad mendapat kabar bahwa kedua orang tua dan kakaknya telah syahid, tewas terkena serangan bom. Ahmad menangis, tetapi ia iklas. Karena ia tahu, kedua orang tua dan kakaknya telah masuk surganya Alloh SWT.

Kak Jani terus menyampaikan cerita tentang Ahmad tersebut sambil diiringi alunan musik yang menyentuh hati. Penulis, selaku pembawa acara, menyaksikan banyak penonton yang meneteskan air mata. Bukan hanya peserta didik. guru, dan orang tua murid yang hadir pun terlihat berkali-kali mengusap matanya yang basah dan ada juga yang terseguk-seguk.

Bahkan, ketika jam pulang. Saat penulis mengantar peserta didik ke pintu gerbang. Seorang peserta didik berkata ke penulis, “Pak Fajar, tadi aku sedih denger cerita Ahmad tadi”. Penulis coba menggali perasaanya dengan bertanya, “Kenapa sedih?”.

“Kasihan orang tuanya kena ledakan, rumah, sama sekolahnya juga”. Jawabnya dengan sendu.

Cerita Ahmad memang tidak nyata. Tetapi itulah gambaran kecil duka nyata jutaan anak-anak palestina yang sampai saat ini masih terjajah. Mereka hidup dalam keadaan terdzalimi, rumah mereka hancur, sekolah mereka rusak, mereka tidak bebas bermain, bahkan kota mereka di blokade yaitu Kota Gaza.

Karena keadaan nyata yang diketahui itu dan juga karena rasa ikatan ukhuwah islamiyah dan insaniyah (kemanusiaan)lah yang menyebabkan air mata mereka menetes. Hingga pada akhir acara tangan mereka tergerak untuk membantu Palestina dengan menyisihkan sebagian rizki mereka melalui program donasi untuk Palestina Yayasan Kasih Palestina yang dikumpulkan menggunakan kotak yang terbuat dari kardus.

Setelah selesai acara. Kak Jani dan rekan-rekan, serta beberapa guru TK Soedirman menghitung uang donasi. Dan Alhamdulillah, terkumpul sebanyak Rp.15.126.000,.

Terimakasih Ayah, Bunda telah membersamai Ananda menghafal alquran hingga mereka percaya diri tampil pada pentas tasmi. Dan terimakasih karena telah mengijinkan Ananda membersamai anak-anak Palestina melalui donasi yang diberikannya.

Semoga Ananda KB, TK Islam PB Soedirman menjadi ilmuwan, pengusaha, dan professional lainnya yang hafal alquran, mencintai agama, Negara, bangsa, dan seluruh umat manusia. Aaminn